Kamis, 18 September 2008

proses karya moelyono dipapua





Menyisir dari Desa ke Desa[1]

Moelyono
(Seniman Seni Rupa-Tulungagung-Jawa Timur)


1965
Peristiwa yang membekas kuat dalam ingatan saya adalah saat kelas satu SD –Sekolah Dasar-, yaitu kala pagi bersama kawan-kawan berangkat sekolah dengan lebih dulu melihat sungai Bengawan yang arusnya deras menyeret batang pisang, pepohonan dan tubuh-tubuh mengembung yang oleh kawan-kawan didorong ke tengah agar tubuh-tubuh yang tersangkut di pohon krangkong hanyut ke kali Brantas. Tubuh-tubuh itu, kata orang-orang yang mengerumun di sepanjang pinggiran sungai adalah orang PKI yang disembelih.
Magrib tiba, ibu memasang tangga ke menara bak tampungan air, bapak kemudian naik dan masuk ke dalam bak air yang kosong, untuk bersembunyi dari ketakutan jika setiap saat diciduk para Sakerah. Semua tetangga ketakutan saat itu, beberapa ayah kawan-kawan telah diciduk dengan cap PKI. Bapak kerja pesuruh di kabupaten, pulang dari kantor membawa majalah terbitan soviet, saya suka fotonya. Mungkin karena majalah itukah, bapak bersembunyi?
Usai memasang tangga, ibu masuk ke rumah, memalang pintu, meredupkan lampu teplok dan mendaraskan Al Qur.an, aku tidur di sampingnya.
Saat sekolah seni lukis di “ISI” –Insitut Seni Indonesia Yogyakarta, berkarya dengan tema problem sosial rakyat, yang dalam prosesnya muncul kegundahan, bahwa melukis hanya menyampaikan pesan sosial, tetapi tidak bisa langsung menyelesaikan persoalan sosial.
1985 bersama warga di daerah rawa, desa Waung, Tulungagung; bekerja membuat ladang apung dari enceng gondok dan ditanami kangkung, cabe, bayam. Pengalaman kerja ini kemudian dibuat karya instalasi bertajuk “KUD” atau “Kesenian Unit Desa” digunakan sebagai karya syarat ujian S1, dan ditolak oleh Dewan Penguji karena dianggap tidak memenuhi syarat sebagai karya lukisan.

1980
Tahun 1986 ke teluk terisolir Brumbun dan Nggerangan, dihuni 260 warga. Ada satu SD. Kecil, murid 23 anak, guru 4 orang, pak Katiran saja yang aktif karena Kepala SD, dan yang menawari saya mengajar gambar karena tidak ada guru keseniannya. Menggambar dilakukan hari Sabtu dan Minggu. Maret 1987, sekitar 100 gambar anak-anak dipamerkan di dinding rumah seorang warga Brumbun, agar warga tahu hasil gambar anak-anak, bulan Juli 1987 gambar dipamerkan di Bentara Budaya Yogya.
Jakarta, awal 1988, oleh API-Asosiasi Peneliti Ilmu Sosial Indonesia- diundang ceritakan kegiatan bersama anak-anak. Ini pertama kali mengenal LSM dan mendapat referensi riset partisipatori. Gambar anak-anak dan warga dewasa digunakan membahas persoalan keseharian: sejarah pemukiman, tanah pantai milik siapa, mengapa warga miskin, mengapa tidak ada bantuan pembangunan, mengapa petugas kesehatan jarang datang, bagaimana mengaktifkan guru SD, bagaimana menyalurkan air minum, kemana anak-anak bermain, mengapa ikan mulai susah ditangkap, warga sudah punya KTP atau belum.
Pertengahan 1988, saat datang ke Brumbun untuk mempersiapkan pameran ke Jakarta, saya oleh petugas kantor Kecamatan langsung dibawa masuk ke dalam rumah pak RT. Di dalamnya telah duduk Babinsa, Polsek dan petugas Kecamatan -Muspika Kecamatan-. Kepala Desa Ngrejo duduk di luar tidak ikut masuk. Babinsa bertanya: nama lengkap, tanggal dan tempat lahir, pekerjaan, nama orang tua, pekerjaan orang tua, apa partai politik orang tua, waktu tahun 65 umur berapa, masih ingat peristiwa 65, mengapa sebagai sarjana masuk ke dusun miskin, mengapa tidak bekerja saja ke kota, apa tujuannya, kegiatan ini mirip yang dilakukan PKI masuk ke desa-desa miskin di sepanjang pantai selatan, apa tujuan gambar anak dipamerkan ke Jakarta, siapa panitia orang Jakarta, siapa orang Jakarta yang sekarang di Brumbun, apakah kegiatan ini sudah punya ijin dari Muspida ? Pertanyaan soal ijin kegiatan inilah yang saya tidak bisa menjawab. Babinsa memerintahkan: kegiatan sekarang juga harus dihentikan, tidak boleh masuk ke dukuh Brumbun dan Nggerangan sebelum ada surat ijin dari Muspida dan rekomendasi dari Muspika. Jika tidak berhenti sekarang, semua yang datang akan dinaikkan ke truk dibawa ke Koramil.
Setelah mendapat surat ijin dari Depdikbud, Polres, Kodim; surat diberikan ke Camat yang menjelaskan bahwa yang berkepentingan adalah Koramil. Surat diserahkan ke komandan Koramil yang menjelaskan pula bahwa kekuasaan teritorial dipegang oleh Koramil bukan Camat. Pantai dulu jadi daerah pelarian, perlindungan, dan lokasi pembantaian orang-orang PKI serta kemungkinan kapal asing dapat menyelundup. Pengawasan keamanan demi stabilitas negara di pantai selatan harus diperketat, apalagi dari gejala-gejala berbau PKI.
Kegiatan menggambar boleh dilanjutkan oleh pihak Koramil, dengan catatan tidak boleh lagi melakukan kegiatan mengumpulkan para orang tua untuk berbincang-bincang, apalagi bicara politik.
Pameran gambar anak-anak diadakan Agustus 1988, yang kemudian oleh sebuah koran diberi judul: Pameran Seni Rupa Penyadaran –istilah yang mengacu pada pemikiran pendidikan Paulo Freire: ”penyadaran” (conscientization)-
Katalogus pameran diserahkan pada Bupati Tulungagung, dan langsung menyatakan ingin mengunjungi Brumbun. Beberapa minggu Bupati datang ke teluk Brumbun, dan memutuskan dengan pihak Bappeda, teluk Brumbun dan Nggerangan dibangun jalan aspal untuk obyek pariwisata. Pembangunan jalan aspal membuat mobil colt angkutan desa masuk ke teluk Brumbun hingga warga nelayan bisa langsung menjual ikan atau udang Lobster ke pasar kota, wisatawan lokal datang, warga mulai mendirikan warung, jawatan perikanan meminjami kredit perahu , mobil puskesmas keliling intensif menyemprot sarang nyamuk Malaria, Departemen Pendidikan mengganti gedung SD.
1989-1991 Gambar anak-anak Brumbun dipamerkan keliling ke Surabaya, Solo, Salatiga dan Yogya disertai diskusi dan workshop yang diselenggarakan bersama kawan-kawan aktifis LSKBH-Surabaya, Sanggar Suka Banjir-Solo, FDPY, FKMY, SMID-Solo, Yayasan Geni, Satya Wacana-Salatiga. Setiap pembukaan pameran diawali dengan pembacaan puisi oleh penyair Wiji Thukul.



1990
1992 hidup di kawasan buruh industri di Rungkut, Surabaya. Mengajar gambar anak-anak buruh serta para buruh perempuan. Tahun 1993 bersama 11 buruh kawan Marsinah dan KSUM-Komite Solidaritan Untuk Marsinah-, kerjasama dengan Dewan Kesenian Suabaya, mengadakan “Pameran Seni Rupa untuk Marsinah” di Surabaya, memperingati 100 hari terbunuhnya Marsinah. Pameran dilarang dibuka oleh pihak militer.
1993 bersama warga desa lokasi pembangunan proyek bendungan Wonorejo, Tulungagung, kegiatan kesenian Jaranan Butho dan lukisan kaca sambil membahas problem ganti rugi harga tanah, dan lokasi pemindahan warga. Hasil dari proses dialog, dipamerkan dalam karya seni rupa instalasi di TBS, Solo. Pameran dimuat di koran Jawa Timur dan dibaca pihak kecamatan yang kemudian mengintruksikan kepada kepala desa lewat foto copy kliping koran agar melarang warga luar desa ikut kegiatan jaranan.
1994 bersama penyair Widji Thukul, perupa Semsar Siahaan, beberapa kawan aktifis budaya Yogya membuat JAKER-Jaringan Kerja Kesenian Rakyat- sebagai perkumpulan yang dapat saling kerjasama jika menghadapi pelarangan; selain agar gerakan kebudayaan rakyat menguasai kembali kesenian rakyat sebagai media penyadaran, pembebasan dan kemandirian.
1995 bersama warga desa Winong tempat saya tinggal, menghidupkan kembali kelompok kesenian: jaranan Jowo, saat pendirian, pejabat desa memberi peringatan bahwa kesenian dilarang untuk politik seperti Lekra; karena terdapat seorang tokoh warga ber-KTP ET –Eks Tapol- ikut dalam kelompok.
Tahun 1998 di desa Kebonsari, Pacitan, bersama anak-anak berlatih kesenian Lesungan, Reog, Karawitan, Ketoprak dengan pengajar para tokoh seniman desa. Memulai latihan ketoprak prosesnya agak sulit, para bekas pemain ketoprak masih ingat, saat meletusnya G-30-S-PKI beberapa pamain ditangkapi karena dicap Gerwani dan Lekra, salah satunya adalah pak guru Sarnen pimpinan dan pemain bintang dengan lantunannya yang mempesona; sampai saat sebelum dieksekusi mati, sang eksekutor minta pak guru Sarnen melantunkan ‘dandanggulo’. Setahun setelah reformasi, 1999, mbah Jumirah yang dulu dicap Gerwani, antusias memimpin latihan Lesungan, Karawitan dan Ketoprak dengan cerita soal keseharian petani.
Tahun 2001, bersama ibu-ibu dan bapak warga dewasa di desa Sumber, Ponorogo, memainkan kembali kesenian karawitan dan Jaranan Plok yang sekaligus digunakan untuk mata pelajaran pendidikan anak-anak usia 3-5 tahun di Sanggar Bermain Anak Tani yang diasuh oleh ibu-ibu tani.
Tahun 2006 di Wamena, Papua, wilayah Kurulu dan Kurima, menjadi fasilitator kontrakan sebuah LSM, melakukan program pendidikan anak usia emas 0-5 tahun, memadukan pembiasaan pola hidup bersih, pemenuhan dan pendidikan gizi, kesehatan dan stimulasi potensi anak; cara yang kemudian disebut pendidikan anak untuk pengembangan masyarakat.

Refleksi 10 tahun Reformasi

Berkegiatan kesenian lokal dan pendidikan anak di desa tidak perlu lagi surat ijin dari Kecamatan, Babinsa dan Polsek. Di desa-desa yang pernah saya fasilitasi antara lain: Jawa Timur: Pacitan, Ponorogo, Kediri, Surabaya, , Tulungagung; DIY: Bantul; Nangroe Aceh Darussalam: Banda Aceh, Meulaboh; NTB: Mataram; NTT: Kupang, Rote, Kefa, Waingapu, Sikka; Kalimantan Barat: Singkawang, Sungai Pinyu, Sanggau, Pontianak; Kalimantan Timur: Sangata (KPC); Sulawesi Tengah: Banggai, Poso; Sulawesi Selatan: Jeneponto; Maluku: Ambon, Masohi; Papua: Jayapura, Keerom, Wamena; terlihat kehidupan kesenian lokal mulai punah, jika masih hidup lebih karena ikatan ritual atau menjadi obyek hiburan pariwisata; tidak didayagunakan sebagai media pendidikan atau program penguatan identitas dan kebanggaan kebudayaan.
Di Jawa Timur yang pada tahun 60-an banyak terdapat kelompok organisasi dan pelaku kesenian di desa-desa pertanian: Ketoprak, Ludruk, Jaranan –Kuda lumping: Jaranan Jowo, Jaranan Sentherewe, Reog, Jaranan Plok, Karawitan, Jedor, Jemblung, Wayang Krucil, kini betul-betul sekarat. Tidak ada lagi perhatian masyarakat apalagi pemerintah. Arsitektur bangunan dan tata ruang pemukiman warisan tata nilai budaya dan reliji pertanian di desa-desa maupun di kota kabupaten, juga menuju kepunahan.
Pendidikan anak pada masa pertumbuhan atau pada usia emas: 0-5 tahun: tahap yang masih memerlukan jaminan hak hidup yang mendasar: gizi, nutrisi, pola hidup bersih dan sehat dan stimulasi potensi dengan kecerdasan anak, belum terjamin memadai. Anak-anak NTT, NTB, Wamena terlihat harus bergelut dengan persoalan mencari air, kayu, ubi, sambil menyandang ingus, gatal-gatal, perut buncit.
Jika pada setahun terakhir ini telah muncul program PAUD –Pendidikan Anak Usia Dini- yang secara gencar di lakukan di kabupaten dan desa-desa di pulau jawa, masih menjadi sekedar proyek pengeluaran anggaran. Konsep dan metode silabus dan sistem institusi yang menopang belum memadai pemahaman dalam turunan pelaksanaannya.

Agenda Pasca Reformasi

10 tahun setelah reformasi, mayoritas warga Wamena yang bermukim di kaki lembah Jayawijaya, masih tinggal di honai laki dan perempuan, para lelaki dewasa masih memakai koteka, para perempuan dewasa, setiap hari masih rutin bekerja menanam, merawat, memanen hipere –ubi jalar; memberi makan-mengeluarkan-mengandangkan babi, merawat anak dan menyiapkan makanan suami. Perempuan di desa masih melahirkan dengan cara tradisi jongkok berpegangan kayu dibantu dukun; tidak ke puskesmas. Kepala perempuan masih digunakan untuk tumpuan gantungan tas noken bertumpuk isi hipere, dan bayi. Kebun dengan tanah subur ditanami wortel, kol, cabe dan buah merah, yang hasilnya dijual. Ladang penuh rumput dan perdu bagus untuk ternak sapi, kambing dan kolam ikan.
Festival budaya Lembah Baliem tiap tahun masih menampilkan fragmen perang antar suku, pelestarian nilai dendam, primitifisme dan eksotisme yang dijadikan produk jual pariwisata. Remaja putus sekolah, kerja menjadi tukang becak, penganggur, mabuk di jalan, pelacuran, HIV-Aids. Anak masih sulit pelajaran menulis, membaca dan berhitung, penyakit keseharian ingusan, kudis dan jarang mandi. Pengembangan wilayah, otonomi khusus, adalah proyek-proyek yang menggemukkan elit pejabat, elit golongan.
Di desa Wosi dan Manda –Kurulu, Wamena, dilakukan kerja pendidikan bagi anak usia emas dengan langkah melakukan pelatihan bagi ibu-ibu, bapa dan remaja menjadi pendidik lokal anak usia 4-6 tahun, menggunakan kesenian lokal: lagu, tari, permainan, mainan lokal sebagai mata pelajaran yang disusun menjadi modul.
Mengumpulkan kepala suku, wali gereja, orang tua anak untuk membahas pembangunan tempat mengajar anak, disepakati bangunan Honai Anak dengan model mirip honai perempuan yang memanjang dengan konstruksi agak tinggi, dinding dari kayu diberi dua pintu masuk samping kiri dan kanan, di tengah dipasang jendela untuk ventilasi, beratap rumput ilalang, lantai anyaman lokop. Selesai kesepakatan, esoknya seluruh warga bekerja sama membangun honai anak dengan pembagian: laki-laki mencari kayu dan membangun konstruksi, menganyam lokop untuk lantai, perempuan dan anak-anak mencari rumput ilalang; dalam 5 hari bangunan honai anak selesai.
Halaman diberi tempat ayunan dan seluncuran dari kayu, di sebelah Honai Anak dibangun Honai untuk rumah pak Boas koordinator kegiatan dan untuk dapur memasak gizi anak-anak. Dibelakang dan samping Honai pak Boas dibuat kebun dan sumur. Kegiatan pendidikan dilakukan 4 hari seminggu yang difasilitasi oleh anak-anak remaja perempuan dan laki-laki dengan murid 40 anak dengan prioritas pembiasaan pola hidup bersih dan sehat yaitu membuang ingus, mandi di sungai sebelum masuk sekolah, penganekaraman makanan yang mudah ditanam -selain makanan pokok: hipere –ubi jalar-: wortel, bayam, kangkung, kol, ikan sungai, udang, buah tomat, apokat, jeruk, markisa, jambu.
Selain pendidikan anak usia 4-5 tahun di Honai Anak ,dilakukan pula pendidikan bagi janin dalam kandungan sampai anak usia 3 tahun dengan model pendidikan di rumah yang dilakukan oleh ibu, suami, dan anggota keluarga yang diberikan pelatihan menggunakan budaya lokal sebagai mata pelajarannya dan disusun dalam modul dengan bahasa lokal.
Model pendidikan bagi anak usia emas yang dilakukan dan dikelola sendiri oleh warga dengan bahan pelajaran budaya lokal juga diterapkan di desa-desa di Jawa, Aceh, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi, sampai ke desa Tebabui, Lolotoe, Ilatlaun di kecamatan Bobonaro dan Maliana di wilayah Dili, Timor Leste; sebagai agenda pendidikan anak-anak untuk menjadi agen pengembangan warga komunitas desa.
Masa kecil melihat mayat mengapung yang di cap PKI, ketakutan bapak, ngiang lantun pendarasan ayat Qur’an, pak Katiran yang “menjadikan guru gambar”, kegundahan, melukis hanya menjadi penyampai pesan sosial, tetapi tidak menyelesaikan persoalan sosial; itukah yang mendasari “seniman” menyisir dari desa-ke desa?
Pekerjaan yang juga bisa, biasa dan telah dilakukan ribuan “seniman”, karena “kesenian” memiliki magnet otonomi kemandirian sikap; seperti apa telah diajarkan oleh Pak Sarnen: saat prosesi eksekusi melantunkan dandanggulo…….
[1] Makalah yang dipresentasikan di “Workshop on 10 Years of Reformasi in Indonesia”, Flinders University, Adelaide, Australia, 14-15 April 2008.

Senin, 08 September 2008